2026-04-07
Penguatan Kolaborasi Desa dalam Pengelolaan Sumber Daya Berkelanjutan Berbasis Konservasi Bahari di Kendawangan
Penguatan Kolaborasi Desa dalam Pengelolaan Sumber Daya Berkelanjutan Berbasis Konservasi Bahari di Kendawangan
Tindak lanjut pengelolaan potensi sumber daya desa berkelanjutan berbasis konservasi bahari dilaksanakan melalui rapat koordinasi bersama empat desa dampingan di Kendawangan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya perlindungan dugong sekaligus penguatan program konservasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat pesisir.
Pertemuan ini melibatkan Yayasan WeBe bersama YIARI, pemerintah desa, serta kelompok masyarakat setempat. Diselenggarakan pada Selasa, 7 April 2026 di Room Meeting Setara 2, forum ini menjadi ruang strategis untuk menyamakan visi serta memperkuat kolaborasi lintas pihak dalam pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.
Tujuan utama kegiatan ini adalah menyatukan persepsi program sekaligus mendorong percepatan penyusunan dan realisasi draft Nota Kesepahaman (MoU). Selain itu, forum ini menegaskan bahwa seluruh program yang dijalankan merupakan program milik desa dengan dukungan pendampingan, bukan milik lembaga, sehingga keberlanjutannya dapat terjaga.
Melalui diskusi partisipatif, teridentifikasi sejumlah tantangan utama, antara lain rendahnya kapasitas sumber daya manusia, pengelolaan sampah yang belum optimal, serta kendala legalitas lahan dalam pengembangan potensi wisata. Namun demikian, wilayah ini juga memiliki potensi besar, seperti keberadaan dugong, ekosistem lamun sebagai penyerap karbon biru (blue carbon), serta peluang pengembangan wisata mangrove dan bahari.
Sebagai langkah strategis, para pihak menyepakati pentingnya kolaborasi lintas desa, penguatan kelompok masyarakat, pengembangan paket wisata berbasis konservasi, serta peningkatan edukasi lingkungan. Pendekatan ini diharapkan mampu mendorong keseimbangan antara pelestarian ekosistem dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ke depan, tindak lanjut akan difokuskan pada penyusunan MoU dan penguatan koordinasi berkelanjutan antar pemangku kepentingan. Upaya ini diharapkan mampu memastikan bahwa konservasi tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang berkelanjutan, dengan prinsip bahwa dugong hidup jauh lebih bernilai dibandingkan dugong mati.